Sisi Gelap Kacamata Pintar Meta: Pekerja Pelabel Data Diduga Bisa Melihat Foto dan Video Pribadi Pengguna
Kacamata pintar berbasis AI dari Meta, seperti Ray-Ban Meta, sering dipromosikan sebagai asisten masa depan yang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun, investigasi terbaru yang dirilis oleh media Swedia, Svenska Dagbladet, mengungkap kenyataan mengejutkan di balik layar: data pribadi yang sangat sensitif ternyata diproses secara manual oleh pekerja di luar negeri.
"Kami Melihat Segalanya": Kesaksian dari Nairobi
Di balik teknologi canggih Meta, terdapat ribuan pekerja yang dikenal sebagai "data annotators" di Nairobi, Kenya. Mereka bekerja untuk perusahaan subkontraktor bernama Sama. Tugas mereka adalah mengidentifikasi dan memberi label pada gambar serta video secara manual untuk melatih sistem AI Meta.
Kesaksian dari para pekerja ini sangat mengkhawatirkan. Mereka mengaku melihat rekaman kehidupan pribadi pengguna yang sangat intim, termasuk:
- Momen saat pengguna berada di kamar mandi.
- Pengguna yang sedang berganti pakaian atau telanjang.
- Aktivitas seksual yang terekam tanpa disadari oleh pengguna.
Selain konten visual, data suara dan teks juga menjadi sasaran pemrosesan. Para pekerja dilaporkan dapat melihat informasi kartu bank hingga obrolan pribadi yang berisi konten sensitif lainnya.
Kontradiksi Privasi dan Janji Pemasaran
Meskipun Meta menjanjikan perlindungan privasi yang ketat, investigasi menemukan beberapa kejanggalan:
- Klaim Penyimpanan Lokal yang Keliru: Di beberapa toko ritel besar di Swedia, staf penjualan meyakinkan pelanggan bahwa data hanya disimpan secara lokal di aplikasi. Namun, analisis trafik jaringan menunjukkan bahwa kacamata ini terus berkomunikasi dengan server Meta untuk menjalankan fitur AI-nya.
- Kelemahan Anonimisasi: Algoritme untuk memburamkan wajah secara otomatis dilaporkan sering gagal, terutama dalam kondisi pencahayaan redup. Akibatnya, para pelabel data di Kenya sering kali melihat wajah dan tubuh pengguna dengan sangat jelas.
Lonjakan Penjualan di Tengah Kekhawatiran
Isu privasi ini muncul di tengah ledakan popularitas kacamata pintar. Penjualan produk ini melonjak dari total 2 juta unit (akumulasi 2023-2024) menjadi 7 juta unit pada tahun 2025 saja. Banyak pengguna mungkin telah menyetujui syarat dan ketentuan Meta untuk menggunakan fitur AI tanpa menyadari bahwa data mereka dapat ditinjau secara manual oleh manusia di negara pihak ketiga.
Para ahli hukum menunjukkan bahwa transfer data ke negara-negara dengan standar perlindungan data yang berbeda dari Uni Eropa (seperti GDPR) dapat menimbulkan masalah hukum yang serius dan risiko skandal besar jika data tersebut bocor ke publik.
Respon dari Meta
Saat dikonfirmasi mengenai temuan ini, Meta tidak memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan spesifik. Mereka hanya menyatakan bahwa pemrosesan data dilakukan sesuai dengan syarat layanan dan kebijakan privasi yang telah disetujui oleh pengguna. Sementara itu, pihak subkontraktor (Sama) tidak memberikan komentar.
Inovasi kacamata pintar Meta membawa kemudahan, namun juga menuntut pengorbanan privasi yang besar. Pengguna disarankan untuk lebih berhati-hati dan memahami bahwa apa yang mereka lihat melalui lensa kacamata pintar mungkin juga sedang disaksikan oleh orang lain di belahan dunia lain demi kemajuan kecerdasan buatan.

Gabung dalam percakapan